Reaksi.co.id-Tanah lapang di depan Masjid Al Ittihad RK 1, Desa Bandar Abung, Abung Surakarta, Lampung Utara, pagi itu ramai tapi khidmat. Di bawah rindangnya pohon nangka dan kelapa, 11 ekor kambing dan 1 ekor sapi berdiri tenang. Di punggung mereka tersemat kain putih bertuliskan nama, bukan sekadar tanda, tapi pesan cinta yang ingin sampai ke alam sana.
Pemandangan itu biasa terjadi setiap Idul Adha. Tapi kalau didengar ceritanya satu per satu, kurban di desa ini terasa berbeda. Bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi tentang mengingat, berbagi, dan melanjutkan cinta.
Di antara hewan yang ditambatkan, tiga ekor kambing milik Solihin tampak. Tulisan di kain penutupnya menyebut nama anak dan cucu yang telah lebih dulu berpulang. “Saya niatkan pahala kurban ini untuk mereka,” ujar Solihin pelan. Bagi warga sekitar, ini bukan hal aneh. Di Bandar Abung, kurban sering dijadikan wasilah mengirim doa. Hewan disembelih, tapi yang hidup adalah kenangan.
Tidak jauh dari situ, Sopyan menggiring dua ekor kambingnya. Satu untuk dirinya, satu untuk sang istri. “Alhamdulillah tahun ini Allah beri rezeki. Biarlah kami berbagi bersama warga,” katanya sambil tersenyum.
Yang paling menyita perhatian adalah sapi kurban milik Robi Rifki. Sapi besar itu dihadirkan untuk dirinya keluarga. Di tengah ekonomi yang tak selalu mudah, kurban sapi di tingkat RK 1 ini jadi bukti gotong royong dan rezeki yang dibagi bersama.
Ada juga Ingga Sani. Satu ekor kambing atas nama almarhum putranya, tidak banyak kata yang keluar darinya. Cukup air mata yang tertahan dan doa yang dipanjatkan saat panitia mencatat namanya.
Foto-foto di lokasi menunjukkan bagaimana warga, bapak-bapak berbaju putih, ibu-ibu berkerudung, anak-anak yang penasaran berkumpul di lapangan. Ada yang mengikat hewan, ada yang mencatat data, ada yang sekadar berdiri menyaksikan. Tidak ada hiruk pikuk berlebihan, hanya suasana kerja sama yang sudah jadi kebiasaan setiap tahun.
Panitia kurban mencatat total 11 ekor kambing dan 1 ekor sapi yang disembelih tahun ini. Dagingnya akan dibagikan kepada warga sekitar.
Saat proses penyembelihan dimulai, suasana berubah. Lantunan Takbir, Tahmid dan Tahlil menggema dari mulut panitia dan warga yang berdiri melingkar. Suara itu menenangkan, mengingatkan bahwa semua yang terjadi di sini adalah ibadah.
Di sisi lain, seorang ibu tak bisa menahan tangis. Ia menutup wajah dengan kerudung, memalingkan pandangan saat pisau menyentuh leher kambing yang diniatkan untuk almarhum anaknya. “Rasanya seperti melepas lagi,” bisiknya pada rekannya. Air matanya bukan tangis sedih semata, tapi haru karena merasa masih bisa berbakti.
Tidak semua berjalan mulus. Ada momen panitia bergulat menahan kambing yang memberontak saat diikat kakinya. Keringat bercucuran, nafas memburu. Tapi di sela-sela itu, tawa pecah saat seekor kambing justru lari kecil mengitari tiang. Anak-anak bersorak, suasana tegang seketika cair.
Di Bandar Abung, semua berbaur jadi satu, haru, lelah, canda, dan doa.
Pemandangan ini juga jadi bukti kekompakan masyarakat pribumi Lampung. Warga adat, pemuda, ibu-ibu, semua turun tangan. Ada yang memegang hewan, ada yang mencatat, ada yang menyiapkan kantong daging. Tidak ada perintah kaku, semua bergerak karena rasa memiliki. Di sini, gotong royong bukan slogan, ia hidup di setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah lapang itu.
Celana panitia pun tak luput dari percikan darah, ada tangan yang tergores pisau saat memotong tali dan membagi daging, Aroma khas hewan kurban menyengat di udara, ada rasa kesal kecil yang tak sempat diucapkan saat lalat mulai berdatangan. Tapi semua itu tetap terlewat karna panitia tau. Ini ibadah.
Karena di akhir hari, yang terdengar justru ucapan maaf dan terima kasih. “Maaf kalau pembagiannya kurang rapi,” kata ketua panitia. “Terima kasih sudah membantu, capeknya hilang begitu lihat warga senang,” sahut pemuda yang bajunya penuh noda.
Di Bandar Abung, kurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia jadi ruang mengingat orang yang sudah tiada, ruang berbagi untuk yang masih hidup, dan ruang menegaskan bahwa di desa ini, beban dan rezeki selalu ditanggung bersama.
Di bawah pohon nangka itu, takbir, tangis, tawa, dan keringat bercampur jadi satu. Lewat darah yang mengalir dan daging yang dibagikan, cinta itu sampai. Sampai ke anak yang dirindukan, sampai ke putra yang dikenang, sampai ke setiap rumah yang membuka bungkus daging dengan ucapan “Alhamdulillah”.
Dan di balik semua itu, ada satu hal yang tak pernah putus, ucapan terima kasih dari keluarga pekurban kepada panitia, karena mereka tahu, tanpa tangan-tangan yang rela kotor dan terluka, amanah ini tak akan sampai.(Red-PWRI)







