REAKSI.CO.ID—-Rapat antara Gubernur Lampung, Dinas Pendidikan, dan Dewan Pendidikan Lampung kembali menegaskan satu hal yang kerap diulang: pendidikan adalah kunci. Namun, di balik penegasan itu, publik menunggu lebih dari sekadar retorika.
Dalam forum yang membahas arah program kerja lima tahun ke depan tersebut, Gubernur menautkan agenda pendidikan daerah dengan ambisi besar Indonesia Emas 2045 sebuah visi yang kerap digaungkan, namun belum sepenuhnya terukur pada level implementasi daerah.
“Pendidikan adalah fondasi utama. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam jika ingin menjadi negara maju.”
Pernyataan itu bukan hal baru. Yang menjadi soal: sejauh mana fondasi tersebut benar-benar diperkuat?
Masalah Lama, Janji Baru
Isu klasik kembali mencuat dalam rapat seperti kualitas tenaga pendidik, ketimpangan akses pendidikan, hingga kurikulum yang tertinggal dari kebutuhan industri. Tiga persoalan ini telah bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah dan belum menunjukkan lompatan signifikan.
Di sejumlah wilayah, akses pendidikan masih timpang. Sementara itu, kebutuhan dunia kerja bergerak cepat, meninggalkan sistem pendidikan yang sering kali berjalan di tempat.
Meniru Singapura, Tapi Siapkah?
Gubernur Provinsi Lampung sempat menyinggung Singapura sebagai contoh sukses negara tanpa sumber daya alam yang mampu melesat lewat kualitas manusia dan strategi ekonomi global.
Perbandingan ini sah. Tapi konteksnya berbeda.
Singapura membangun sistem pendidikan yang terintegrasi dengan industri, disiplin dalam kebijakan, dan konsisten dalam eksekusi. Pertanyaannya: apakah Lampung memiliki desain kebijakan yang sama solidnya atau sekadar menjadikan Singapura sebagai narasi pembanding?
Kolaborasi: Kata Kunci yang Kerap Mengambang
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan dan sektor swasta kembali digaungkan. Namun, konsep ini sering berhenti di tataran wacana.
Tanpa peta jalan yang jelas siapa melakukan apa, dalam jangka waktu berapa lama dan dengan indikator apa kolaborasi berisiko menjadi jargon yang berulang setiap periode.
Ujian Sesungguhnya: Implementasi
Rapat ini bisa menjadi titik awal konsolidasi. Tapi sejarah menunjukkan, banyak forum serupa berakhir sebagai seremonial tanpa dampak signifikan.
Jika Lampung serius menyongsong Indonesia Emas 2045, maka yang dibutuhkan bukan sekadar kesepakatan, melainkan keberanian mengeksekusi kebijakan yang terukur, transparan, dan berkelanjutan.
Tanpa itu, pendidikan akan tetap menjadi slogan bukan solusi. (HZ)












