REAKSI.CO.ID——Aroma kejanggalan menyeruak dari kematian Joni Iskandar, warga Desa Negara Batin, Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Lelaki yang disebut polisi sebagai buronan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) itu pulang ke rumah bukan sebagai tersangka yang akan diperiksa, melainkan dalam peti mati.
Kini, sorotan publik mengarah pada satu pertanyaan mendasar, apa sebenarnya yang terjadi sejak Joni dibawa polisi hingga akhirnya kehilangan nyawa?
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mulai memasukkan kasus ini ke radar pengawasan prioritas. Lembaga pengawas eksternal Polri itu mendesak Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) melakukan audit investigatif menyeluruh, termasuk membedah setiap detik rekaman video penangkapan yang beredar.
“Pertama, peristiwanya harus dibuat terang benderang. Kedua, Propam perlu melakukan pemeriksaan digital forensik terhadap rekaman video penangkapan,” kata Komisioner Kompolnas, Mohammad Choirul Anam, saat dihubungi, Minggu (7/6/2026).
Bagi Anam, rekaman video bukan sekadar dokumentasi. Ia bisa menjadi saksi paling jujur.
Sebab, terdapat pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: **bagaimana kondisi seseorang yang disebut ditangkap dalam keadaan hidup dan sehat, kemudian hanya berselang beberapa jam berubah menjadi jenazah dengan luka-luka fatal?**
“Kalau saat ditangkap tidak ada luka tembak atau cedera berat, lalu setelah berada dalam penguasaan aparat justru ditemukan luka-luka fatal, maka itu wajib dijelaskan secara terbuka,” ujar mantan Komisioner Komnas HAM tersebut.
Kompolnas juga mengingatkan agar pemeriksaan internal tidak berubah menjadi mekanisme saling melindungi. Menurut Anam, jika ditemukan penyalahgunaan kewenangan atau penggunaan kekerasan di luar prosedur, penanganannya tidak boleh berhenti pada sanksi etik.
“Kalau terbukti melanggar, sanksinya harus tegas. Bisa etik, bisa pidana jika memenuhi unsur tindak pidana. Tidak boleh ada kompromi,” katanya.
Kasus ini berubah menjadi bola panas setelah keluarga Joni membuka kondisi jenazah kepada publik.
Menurut keterangan keluarga, Joni ditangkap tim gabungan dari Polresta Bandar Lampung dan Polres Lampung Timur di rumahnya. Keluarga menyebut tidak ada perlawanan berarti saat proses penangkapan berlangsung.
Namun beberapa jam kemudian, keluarga justru menerima kabar kematian. Tangis pecah ketika peti dibuka.
Keluarga mengaku menemukan tubuh Joni dalam kondisi mengenaskan dengan wajah lebam, tulang hidung rusak, leher patah, serta sejumlah luka tembak di tubuhnya.
Rentetan temuan itu memunculkan gelombang kecurigaan baru di tengah masyarakat Jabung. Narasi lama mengenai “tindakan tegas dan terukur karena pelaku melawan” kini mulai dipertanyakan.
Pertanyaan publik menjadi semakin sederhana namun sulit dijawab. Yaitu, apa yang sebenarnya terjadi di antara momen penangkapan dan kematian itu?
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum menyampaikan kronologi lengkap, hasil medis resmi, maupun penjelasan rinci mengenai penyebab kematian Joni Iskandar.
Dan selama ruang kosong itu belum diisi fakta yang transparan, spekulasi akan terus tumbuh.
Karena dalam kasus seperti ini, bukan hanya seseorang yang kehilangan nyawa. Tetapi juga kepercayaan publik yang sedang dipertaruhkan.
Di tengah derasnya sorotan publik, keluarga almarhum mengaku hingga kini masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Pihak keluarga menyebut, yang mereka harapkan bukan sekadar simpati, melainkan penjelasan utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi sejak Joni dibawa aparat hingga akhirnya meninggal dunia.
“Kami hanya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi,” ujar salah seorang anggota keluarga.
Beberapa hari setelah kematian Joni, keluarga juga menerima kedatangan jajaran kepolisian yang datang menyampaikan belasungkawa. Dalam kunjungan tersebut, keluarga menerima bantuan sembako dan santunan sebagai bentuk empati atas musibah yang terjadi.
Namun, bantuan tersebut justru memunculkan respons beragam di tengah masyarakat.
Sebagian warga memandangnya sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan. Sebagian lainnya mempertanyakan apakah langkah itu cukup menjawab pertanyaan publik yang lebih besar.
“Bagaimana seseorang yang dibawa dalam keadaan hidup bisa pulang sebagai jenazah?”.
Bagi keluarga, bantuan sembako mungkin dapat membantu kebutuhan sehari-hari.
Tetapi bagi publik, jawaban atas penyebab kematian tetap menjadi hal yang paling ditunggu. (*)













