Editorial Note
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar Lampung Financial Festival 2026 pada 5-6 September 2026 dengan alasan yang cukup serius, meletakkan Lampung sebagai provinsi dengan tingkat literasi penjaminan simpanan masih sangat rendah, berada di bawah rata-rata nasional. Ini bukan persoalan sepele. Ini berarti masyarakat di daerah ini masih banyak yang kurang paham soal keamanan uang mereka di bank. Masyarakat Lampung berpotensi terkena risiko nyata terpapar panik perbankan (bank run) yang tidak perlu, atau sebaliknya, rasa aman yang keliru terhadap produk keuangan berisiko tinggi yang sebenarnya tidak dijamin LPS.
Maka, gelaran kegiatan itu sepatutnya memberikan porsi edukasi yang gencar mencerahkan. Namun ketika rundown acara dibedah satu per satu, muncul pertanyaan mendasar, apakah festival ini benar-benar dirancang untuk menjawab masalah literasi, atau justru menjadikannya sekadar alasan pembuka untuk sebuah panggung hiburan berskala besar?
Ketimpangan Porsi: Edukasi vs Hiburan
Dari total rangkaian acara hari pertama, sesi yang secara eksplisit membahas mekanisme penjaminan simpanan, cara kerja LPS, atau edukasi teknis soal keuangan hampir tidak terlihat menonjol.
Yang justru mendominasi jadwal adalah sesi “Inspirational Talks” bersama figur populer Raffi Ahmad dan Nagita Slavina berbagi kisah sukses untuk generasi muda, dilanjutkan sesi bersama Chairul Tanjung, lalu ditutup konser musik oleh Charly Setia Band.
Semua nama ini punya daya tarik luar biasa untuk mengumpulkan massa. Tapi mari jujur, apa hubungan langsung antara “kisah sukses Raffi Ahmad dan Nagita Slavina” dengan pemahaman masyarakat Lampung soal skema penjaminan simpanan LPS?
Kalau jawabannya “tidak ada hubungan langsung”, maka festival ini sedang menggunakan isu literasi keuangan sebagai kemasan, sementara isi utamanya adalah hiburan dan motivasi generik yang bisa saja terjadi di festival jenis apa pun, atau tidak spesifik soal LPS, penjaminan simpanan, atau bahkan keuangan sama sekali.
Sesi yang lebih relevan, seperti kehadiran Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Business Talk soal emas memang ada, tapi porsinya kalah besar dan kalah “panggung” dibanding sesi-sesi hiburan yang mendapat slot waktu prime time dan promosi lebih gencar.
Target Audiens yang Meleset dari Masalah
Persoalan literasi penjaminan simpanan yang rendah di Lampung, secara logis, paling banyak menimpa kelompok yang jarang bersentuhan dengan edukasi keuangan formal, seperti pelaku UMKM di pasar-pasar tradisional, nasabah bank di kabupaten/kota yang jauh dari pusat literasi, ibu rumah tangga pengelola keuangan keluarga, hingga pekerja informal yang menyimpan uang di bank tanpa memahami batas jaminan LPS.
Tapi rundown acara ini justru condong menyasar “generasi muda” melalui sesi DPR Menyapa, sesi bersama Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, hingga nuansa acara yang lebih terasa seperti festival anak muda perkotaan ketimbang forum edukasi lintas kalangan.
Kelompok yang justru paling rentan salah paham soal jaminan simpanan yang notabene menjadi alasan festival ini digelar di Lampung, berisiko tidak menjadi audiens utama yang benar-benar terjangkau oleh pesan intinya.
Ketika Nama Besar jadi Tujuan, Bukan Alat
Ada pola yang lazim terjadi pada festival-festival semacam ini. Alasan tematik (literasi keuangan, dalam kasus ini) dijadikan justifikasi anggaran dan legitimasi acara, sementara daya tarik sesungguhnya yang dijual ke publik adalah nama-nama besar yang hadir.
Ini bukan berarti menghadirkan figur publik itu salah. Kehadiran mereka efektif untuk menarik kerumunan dan menciptakan atensi media. Masalahnya muncul ketika porsi edukasi substantif justru menjadi elemen pelengkap, bukan inti acara.
Jika LPS benar-benar serius ingin menaikkan literasi penjaminan simpanan di Lampung, maka harus bisa menjawab pertanyaan kritis ini: “sesi apa yang bisa menarik massa terbanyak, edukasi atau hiburan.”
Dan “materi apa yang bisa membuat seorang pedagang pasar atau nasabah awam paham, bahwa simpanannya di bank dijamin hingga nominal tertentu, dan apa yang harus mereka lakukan jika bank tempat mereka menabung bermasalah”.
Materi semacam ini butuh sesi interaktif, workshop kecil, simulasi kasus, atau kelas tanya-jawab langsung, bukan panggung besar dengan sorotan kamera dan tepuk tangan penonton.
Festival Meriah, Tapi Menjawab Masalah Siapa?
Lampung Financial Festival 2026 kemungkinan besar akan berhasil dari sisi jumlah pengunjung, indikator yang sering dianggap sebagai ukuran “kesuksesan” sebuah acara publik.
Tapi keberhasilan menarik keramaian tidak sama dengan keberhasilan menaikkan literasi. Jika setelah festival ini selesai, tingkat pemahaman masyarakat Lampung soal skema penjaminan simpanan tidak banyak berubah, karena mereka datang untuk menonton konser dan mendengar kisah sukses selebritas, bukan untuk memahami cara kerja LPS, maka festival ini dinilai gagal menuntaskan alasan yang menjadi dasar penyelenggaraannya.
Literasi keuangan adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan pendekatan yang menyentuh langsung kelompok sasaran, bukan sekadar panggung megah dengan bintang tamu papan atas. Selama porsi hiburan terus mendominasi porsi substansi, festival semacam ini berisiko menjadi acara seremonial yang meriah, namun tidak benar-benar menjawab persoalan yang melatarbelakangi kelahirannya. (*)













