REAKSI.CO.ID — Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat strategi hilirisasi sektor pertanian melalui pengembangan Kawasan Industri Kakao yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah sekaligus memperluas kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat pembahasan pengembangan Kawasan Industri Kakao yang dipimpin Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama jajaran Pemerintah Provinsi Lampung, PT Mitra Agro Usaha Perkebunan (MAUP), dan PT Buhler Indonesia di Ruang Kerja Gubernur, Selasa (21/7/2026).
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa pembangunan industri pengolahan kakao merupakan langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi pertanian di Lampung. Selama ini, sebagian besar hasil kakao masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah yang diperoleh petani belum optimal.
“Hilirisasi harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama petani, melalui peningkatan harga jual hasil panen, penciptaan lapangan kerja, serta tumbuhnya industri pengolahan di daerah,” ujar Gubernur Mirza.
Menurutnya, pembangunan industri pengolahan kakao juga sejalan dengan arah pembangunan Provinsi Lampung yang tengah mendorong transformasi ekonomi dari sektor berbasis komoditas mentah menuju produk bernilai tambah.
Managing Director PT Buhler Indonesia, Philip de Mayer, menilai Lampung memiliki modal alam yang kuat untuk menjadi pusat industri kakao premium dunia. Berdasarkan pengalaman Buhler mendampingi industri kakao di berbagai negara, kakao asal Lampung memiliki karakter cita rasa (flavour profile) yang lebih kuat dan khas dibandingkan sejumlah daerah penghasil kakao lainnya di Indonesia.
“Keunggulan ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan produk kakao premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar internasional,” katanya.
Namun demikian, Philip menilai tantangan terbesar Lampung bukan terletak pada kualitas bahan baku, melainkan masih terbatasnya kapasitas pengolahan pascapanen. Akibatnya, sebagian besar nilai ekonomi kakao masih dinikmati di luar daerah.
Melalui pembangunan fasilitas pengolahan berteknologi tinggi, Lampung dinilai memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar daerah penghasil biji kakao menjadi produsen produk kakao bernilai tambah yang mampu memasok pasar global.
Philip menjelaskan, Buhler tidak hanya menyediakan teknologi dan mesin produksi, tetapi juga menghadirkan transfer teknologi, riset dan pengembangan, peningkatan kualitas produk, hingga pelatihan sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Bahkan, proyek yang akan dikembangkan di Lampung tersebut berpotensi menjadi fasilitas pengolahan kakao organik single origin pertama di Indonesia dan menjadi salah satu yang sangat sedikit di dunia.
Dengan mengangkat identitas “Single Origin Lampung”, produk kakao dari Provinsi Lampung diyakini mampu membangun citra premium sekaligus memperkuat posisi Lampung dalam peta industri kakao internasional.
Sementara itu, Founder PT Mitra Agro Usaha Perkebunan (MAUP), Tomy Andrianto, menjelaskan bahwa pembangunan Kawasan Industri Kakao merupakan puncak dari proses pengembangan ekosistem kakao yang telah dijalankan selama lebih dari satu dekade.
Menurut Tomy, fokus utama perusahaan bukan sekadar membangun pabrik, melainkan menciptakan rantai nilai yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui hilirisasi.
Saat ini telah terbentuk jaringan sekitar 10.000 petani yang mengelola 10.000 hektare kebun kakao menggunakan klon unggul hasil pengembangan bersama petani sejak 2012. Basis produksi tersebut dinilai cukup kuat untuk menjadi fondasi pembangunan industri pengolahan berskala internasional.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama investasi tersebut adalah memastikan petani memperoleh harga yang lebih baik melalui penyerapan hasil panen secara langsung oleh industri.
Dengan memproduksi kakao organik berstandar Uni Eropa, perusahaan menargetkan harga beli kakao petani dapat meningkat sedikitnya 25 persen dibandingkan harga pasar.
Tomy menambahkan, kawasan industri yang akan dibangun di Lampung Selatan tidak hanya terdiri atas fasilitas pengolahan kakao berkapasitas 2 ton per jam, tetapi juga dilengkapi pusat pembibitan, pusat pelatihan petani, mini plant untuk riset dan pembelajaran, gudang logistik, hingga kawasan yang disiapkan bagi industri hilir seperti makanan, kosmetik, dan farmasi.
Dalam jangka panjang, kawasan tersebut dirancang berkembang menjadi Kawasan Industri Kakao Indonesia–Jerman yang mampu menarik investasi lanjutan dari perusahaan-perusahaan global.
Selain investasi fisik, proyek ini juga didukung skema kolaborasi internasional. GIZ direncanakan mengalokasikan dukungan sekitar 4 juta euro selama 12 tahun untuk pelatihan dan sertifikasi petani, sementara Deutsche Bank menyiapkan pembiayaan mikro bagi petani serta dukungan akses pasar internasional.
Melalui pendekatan tersebut, pembangunan Kawasan Industri Kakao diharapkan tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi komoditas kakao, tetapi juga membangun ekosistem yang memperkuat daya saing petani Lampung secara berkelanjutan.(*).



