REAKSI.CO.ID — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dengan sapaan akrab Iyay Mirza menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai identitas masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mewajibkan penggunaan Bahasa Lampung setiap hari Kamis di lingkungan pemerintahan, disertai penguatan desa-desa budaya.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri resepsi pernikahan Ahmad Ridho dengan Frety Septiani di Desa Kesugihan, Kecamatan Kalianda, Senin (8/6/2026). Acara tersebut juga dirangkaikan dengan prosesi adat peresmian gelar tertinggi pewaris kepemimpinan marga atau Timbang Marga.
Mirza mengatakan prosesi adat tersebut bukan sekadar penyatuan dua keluarga, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi masyarakat adat Lampung.
“Hari ini bukan hanya momentum penyatuan dua insan, tetapi juga peristiwa budaya yang sangat berharga melalui pelaksanaan prosesi peresmian gelar adat tertinggi atau Timbang Marga,” ujar dia.
Menurut Mirza, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama, terutama di tengah arus modernisasi. Pemerintah provinsi, kata dia, telah mengambil sejumlah langkah konkret untuk memperkuat identitas budaya daerah.
Kebijakan penggunaan Bahasa Lampung setiap Kamis, misalnya, mulai menunjukkan dampak. Ia menyebut sejumlah masyarakat pendatang turut mempelajari bahasa daerah tersebut, bahkan melalui kursus dan les privat.
“Ini menunjukkan budaya Lampung dihargai oleh banyak pihak,” kata dia.
Selain itu, pemerintah provinsi berencana menghidupkan kembali 15 desa budaya serta mengembangkan kawasan wisata berbasis kearifan lokal. Program tersebut mencakup pengembangan kampung budaya dan pemeliharaan cagar budaya.
“Kami ingin desa-desa budaya mencerminkan kehidupan masyarakat Lampung pada masa lalu, baik dari perilaku, kebudayaan, maupun ekosistemnya,” ujar Mirza.
Ia berharap langkah tersebut dapat memperkuat daya tarik Lampung sebagai destinasi wisata berbasis tradisi dan sejarah.
“Kita ingin setiap orang yang datang ke Lampung merasa bangga dengan Lampung,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Mirza juga menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Ia berharap pernikahan tersebut membawa kebahagiaan sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai adat dan budaya Lampung.
Acara tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Lampung Selatan, tokoh adat, serta masyarakat dari berbagai wilayah. Prosesi Timbang Marga menjadi simbol keberlanjutan kepemimpinan adat di tengah perkembangan zaman. (*)













