REAKSI.CO.ID—–Jeritan warga Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, tak bisa lagi dibendung. Proyek talud penahan banjir di Sungai Way Tarahan yang diharapkan menjadi pelindung justru berubah menjadi sumber kekhawatiran. Minggu (28/6).
Sorotan keras terhadap pembangunan talud penahan banjir di sungai Waytarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan menjadi keluhan warga yang terkesan belum selesai dibangun namun sudah roboh sekitar 20 meter dengan dugaan yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi seperti tanpa penggalian pondasi yang memadai atau kurangya material dan lainnya. Masalah ini warga ingin segera melaporkan dan meminta tolong pada Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal.
Aparat desa setempat juga tidak dapat berbuat apa-apa karena sudah berapa kali mencoba menghubungi pihak pelaksana proyek sungai waytarahan dan lainnya namun belum ada tanggapan dan tindakan jelas.
Pasalnya terpantau awak media juga adanya indikasi dugaan banyak pengurangan volume dari material dan bahan serta terindikasi adanya Mark-Up Susunan batu renggang, semen tipis dan asal tempel, tidak ada papan proyek (indikasi minim transparansi) dan proyek mangkrak ±3 bulan tanpa kejelasan.
Sorotan penting lainnya, warga dan aparat desa menyampaikan terkait tidak adanya papan proyek yang merupakan instrumen utama transparansi yang memuat informasi penting, mulai dari nama kegiatan, sumber dana, nilai anggaran, hingga volume pekerjaan.
Aparat desa setempat Khoirul menurutnya sudah 3 bulan ini tidak terlihat para pekerja talud tersebut, proyek tersebut diketahui dari Pemerintah Provinsi Lampung, lokasinya tepat di Kecamatan Katibung, Lampung Selatan
“Kami gak tau itu nilainya berapa miliar atau dari dinas mana. Gak ngerti itu sudah begitu aja kerjaannya apa belum selesai, sudah 3 bulan ini gak keliatan pemborong, pengawas atau pekerjanya. Kalo belum kelar kok sudah roboh? Belom juga banjir dan lain-lain”.ujarnya.
Media reaksi.co.id yang mengkonfirmasi ke Kepala Desa Tarahan Khoirul dengan mengatakan proyek itu milik APBD Provinsi dan ia sudah memperingatkan pemborong, pengawas hingga pekerjanya untuk segera menyelesaikan dengan baik.
“Yang saya tau cuma itu proyek APBD Pemerintah Provinsi Lampung, mustopa itu yang bilang sama saya, sebab itu ada karena kemaren-kemaren banjir sampe ngerendam rumah warga sepinggang, saya sudah memperingatkan pemborong untuk segera menyelesaikan proyek itu dengqn baik karena nanti bakal musim hujan masih berlanjut,”kata Khoirul
Oman warga desa tarahan, Kecamatan Katibung membenarkan sudah sekitar 3 bulan terbengkalai, menurut oman proyek penahan banjir di sungai Waytarahan tersebut tiba – tiba berhenti begitu saja. mereka tidak tahu alasannya, soalnya yang bekerja bukan orang sekitar desa tersebut.
“Ya gak tau, dinas mana berapa miliar siapa yang kerjain, gak ada keterangan plangnya. Yang pasti sudah 3 bulananlah gak ada kabar, saya ini rumahnya pas belakangnya tanggul ini. Jadi saya tau. Padahal, awalnya saya udah seneng bener ada tanggul ini, gak takut kebanjiran lagi kami yang rumahnya sekitar bantaran sungai ini, tapi ngeliat begini kami sedih, khawatir juga kami”pungkasnya.
Bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, kondisi ini bukan sekadar proyek gagal ini soal nyawa. Disampaikannya, para warga setempat ramai-ramai sudah melaporkan ke Kades, tapi sampai saat ini belum ada realisasi atau tindakan jelas dari Pemrintah Provinsi Lampung, warga mengharapkan tindaklanjutnya.
“Di desa ini banjir tahun lalu bisa sepinggang, jadi warga bener-bener berharap bantuan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djauzal untuk segera memperbaiki talud ini, tiap malam kalo ujan kami gak bisa tidur, kami ketakutan banjir kayak sebelumnya”terangnya.
Kades atau warga hanya mengetahui nama pemborong proyek Pemerintah Provinsi Lampung itu Mustofa.
“Kades udah berkali-kali depan kami hubungin atau WA mustopa yang ngerjain proyek pemerintah provinsi ini tapi sampe sekarang tidak ada respon sama sekali”ungkapnya.
Dalam pantauan awak media, talud penahan banjir di desa tersebut lebarnya berukuran lebar 30 sentimeter, panjangnya 200meter, tingginya 170 centimeter dengan bentuk horisontal. Selain itu, terkesan talut belum selesai dikerjakan di hilir kurang lebih 25meter dan talud yang jebol sekitar 20 meter di hulu.
Dilokasi yang sama Sudirman warga setempat mengatakan jebolnya tanggul penahan banjir ini sidah cukup lama, disampaikan juga oleh salah satu warga disitu ada pekerjaan pemborongnya terindikasi korupsi.
“Ini banyak bener entah berapa yang di korupsi bang, liat aja kenapa roboh, itu semennya asal nempel aja di batu. Susun batu-batu semen, trus yang didepan menghadap sungainya, liat aja kasar tipis. Ya pasti rubuhlah. Bukan jebol karena banjir”ketusnya.
Sudirman meminta kepada Gubernur Lampung serta jajaran segera menangani masalah rubuhnya tanggul penahan banjir tersebut, warga yang rumahnya sekitar bantaran sungai tersebut khawatir terjadi bencana menimpa mereka. Wargapun secara terbuka meminta perhatian Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal untuk segera turun tangan.
”Lapor pak gubernur iyay mirza, tolong jangan jalan-jalan raya saja yang dilihat dan diurus terus, kami warga yang di daerah dekat sungai dan kehidupan dari sungai seperti sawah, kebun, kesekolah lewat jembatan sungai hingga mandi kami gunakan air sungai. Tolong juga diperhatikan.”pintanya.
Pada tahun lalu, sudir menceritakan kisah desanya daerah Tarahan, Kabupaten Lampung Selatan sempat terendam banjir dan Pemerintah Provinsi Lampung segera melakukan pemantaun di lokasi yang dikabarkan akan dibuat tanggul penahan banjir.
“Ini banjir belum, rubuh iya. Terkait masalah ini kami meminta kepada bapak Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal selaku pemimpin di Pemrintah Provinsi Lampung untuk untuk segera diperbaiki, karena menurut kami pekerjaan tersebut sangat menghamburkan uang negara yang sangat besar, kami berharap dan meminta pihak APH untuk memeriksa pekerjaan tersebut jika benar adanya dugaan korupsi”
Dilanjutkannya, selain ketakutan warga dengan pembuatan talud yang terkesqn asal-asalan tersebut dan tetap dapat membahayakan warga serta diduga menghamburkan uang negara warga menuntut kebaikan dan kebijakan Gubernur Lampung agar proyek talud disitu selesai dan dapat bermanfaat bagi warga.
“Kami minta tolong bener pemeritah Provinsi Lampung, bapak Rahmat Mirxani Djausal kiranya sedikit memberikan jawaban yang menurut kami pekerjaan tersebut sangat menghamburkan uang negara yang sangat besar, kami berharap dan meminta pihak APH untuk memeriksa pekerjaan tersebut jika benar adanya tindak dugaan korupsinya”terangnya
Sudir mengatakan agar masalah talud tersebut segera sampai dengan Gubernur Lampung maupun aparat hukum karenq selain merugikan negara jelas proyek talud – talud seperti ini merugikan warga.
“Tolong viralin aja mas, kami meminta juga selain sama gubernur iyay mirza pada Aparat Penegak Hukum segera dateng, biar bisa liat langsung di sungai waytarahan ini ada tidaknya temuan kerugian keuangan negara akibat pengurangan spesifikasi dari kontraktor. Bisa dipastikan juga ini pejabatnya juga di dinas tersebut bisa jadi terlibat”. (Hanif)








