Reaksi.co.id—BANDAR LAMPUNG—Praktik dugaan mafia solar subsidi di Provinsi Lampung kini tak lagi sekadar bisik-bisik lapangan. Aroma permainan distribusi BBM bersubsidi diduga mulai terbuka ke permukaan dan menyeret nama-nama yang disebut memiliki akses kuat dalam rantai distribusi solar subsidi di Lampung.
Di tengah rakyat kecil menjerit akibat kelangkaan solar, distribusi BBM subsidi justru diduga dijadikan ladang permainan oleh jaringan terorganisir yang disebut bermain dari jalur depot, pengiriman hingga SPBU.
Ironisnya, solar subsidi yang semestinya diperuntukkan bagi petani, nelayan, sopir angkutan dan pelaku usaha kecil diduga dialihkan ke sektor industri demi meraup keuntungan besar dari selisih harga non subsidi.
Permainannya diduga sudah tertata. Dokumen terlihat normal, tapi distribusi di lapangan disebut berbeda,” ungkap seorang sumber kepada media ini, Sabtu (16/5/2026).
Dalam pusaran dugaan tersebut, nama oknum berinisial T yang disebut memiliki posisi strategis dalam distribusi BBM wilayah Lampung ikut mencuat. Selain itu, sosok berinisial YW yang diketahui pernah bekerja di lingkungan Pertamina disebut masih memiliki pengaruh kuat dan diduga menjadi pengendali permainan di lapangan.
Sumber menyebut, meski tak lagi aktif sebagai pegawai, YW diduga masih menguasai jalur distribusi dan memiliki jaringan kuat dalam peredaran solar subsidi.
“YW disebut bukan pemain kecil. Walaupun sudah tidak di dalam, pengaruh dan aksesnya diduga masih berjalan kuat,” kata sumber lainnya.
*Solar Subsidi Diduga “Disedot” Sebelum Sampai ke SPBU*
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan permainan distribusi solar subsidi disebut berlangsung rapi dan sulit terdeteksi secara kasat mata.
Secara administrasi, BBM subsidi tercatat dikirim ke SPBU sesuai prosedur. Namun di lapangan, sebagian solar diduga tidak pernah benar-benar masuk seluruhnya ke tangki SPBU sebagaimana tercantum dalam dokumen pengiriman.
Sebagian muatan disebut diduga langsung
dialihkan ke pihak industri dengan harga jauh lebih tinggi.
“Faktur dibuat seolah aman. Tapi barang diduga sudah berkurang sebelum masuk ke SPBU tujuan,” ujar sumber.
Dua SPBU yang kini menjadi sorotan dalam dugaan permainan tersebut yakni SPBU 25.341.04 di Kampung Bumi, Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah dan SPBU 24.352.40 di Bandar Lampung.
Nama pengelola SPBU berinisial AN juga ikut disebut dalam rangkaian dugaan distribusi solar subsidi tersebut.
*Dugaan Rekayasa CCTV, Pengawasan Pusat Disebut Dikelabui*
Tak hanya dugaan manipulasi distribusi, praktik mafia solar subsidi ini juga disebut disertai dugaan rekayasa sistem pengawasan internal.
Sejumlah SPBU diduga memasang perangkat CCTV khusus untuk mengelabui monitoring pusat agar aktivitas distribusi sebenarnya tidak terbaca.
“Diduga ada sistem CCTV yang sengaja dipasang untuk kamuflase pengawasan. Yang tampil di monitoring disebut bukan kondisi asli,” beber narasumber.
Biaya pemasangan perangkat tersebut bahkan disebut mencapai puluhan juta rupiah.
Jika dugaan itu benar, maka praktik tersebut dinilai bukan lagi sekadar pelanggaran distribusi BBM subsidi, melainkan sudah mengarah pada dugaan kejahatan terstruktur yang merugikan negara secara sistematis.
Rakyat Dipaksa Antre, Dugaan Mafia Solar Justru Diduga Makin Subur
Di saat dugaan permainan distribusi solar subsidi disebut berjalan rapi, masyarakat kecil justru menjadi pihak paling menderita.
Kelangkaan solar subsidi mulai dirasakan di berbagai wilayah Lampung. Sopir truk, petani hingga pelaku usaha kecil mengaku kesulitan mendapatkan BBM subsidi yang seharusnya menjadi hak mereka.
“Rakyat antre berjam-jam cari solar, tapi dugaan permainan distribusi justru disebut berlangsung terang-terangan,” kata sumber lainnya.
Aktivitas distribusi di sejumlah SPBU dengan kuota terbatas juga disebut dinilai tidak wajar dan memperkuat dugaan adanya pengaturan distribusi sejak dari jalur depot.
*Aparat Ditantang Bongkar Mafia Solar Sampai ke Akar*
Mencuatnya dugaan mafia solar subsidi ini memicu desakan keras agar aparat penegak hukum tidak hanya berhenti pada pemeriksaan lapangan semata.
Polda Lampung, BPH Migas hingga PT Pertamina (Persero) didesak turun tangan membongkar seluruh rantai distribusi BBM subsidi yang diduga sudah lama dimainkan oleh jaringan tertentu.
“Kalau aparat serius, bongkar sampai ke aktor utamanya. Jangan hanya pemain lapangan yang disentuh,” tegas narasumber.
Masyarakat juga mendesak pencabutan izin terhadap SPBU yang terbukti terlibat serta penindakan pidana terhadap seluruh pihak yang diduga bermain dalam distribusi solar subsidi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT
Pertamina Patra Niaga wilayah Lampung, pihak SPBU terkait maupun nama-nama yang disebut dalam pemberitaan belum memberikan tanggapan resmi.
Redaksi masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada seluruh pihak terkait guna menjaga prinsip keberimbangan sesuai Undang-Undang Pers. Seluruh informasi dalam pemberitaan ini masih bersifat dugaan dan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan hukum berkekuatan tetap.(*)











