REAKSI.CO.ID—-Peluru itu menembus kepala Brigadir Arya Supena pada pagi buta di Jalan Pagar Alam, Kota Bandar Lampung. Ia tumbang bukan saat menghadapi teroris atau bandar Narkoba kelas kakap melainkan pelaku pencurian sepeda motor.
Salah satu anggota Polisi Republik Indonesia tersebut tersungkur sebelum akhirnya terbujur kaku pada sabtu pagi 9 Mei 2026.
Ketika pelaku kejahatan menembak lebih dulu, aparat dipaksa bertarung hidup-mati di lapangan.
Lanskap kejahatan telah berubah. Pelaku Curanmor kini tak lagi sekadar mencuri mereka menembak lebih dulu. Polisi gugur di jalanan yang seharusnya mereka amankan.
Beberapa waktu sebelumnya, tragedi yang lebih brutal terjadi di pedalaman Way Kanan. Tiga anggota polisi, Kapolsek Negara Batin Iptu Lusiyanto bersama dua anggotanya tewas diberondong peluru saat menggerebek arena sabung ayam ilegal.
Mereka datang dengan mandat penegakan hukum, tetapi pulang sebagai jenazah. Penembakan itu terjadi di lokasi perjudian terbuka, pada sore hari, ketika operasi tengah berlangsung.
Serangan itu bukan sekadar insiden kriminal. Ia membuka lapisan gelap yang lebih dalam kekerasan bersenjata kini tidak lagi eksklusif milik jaringan besar.
Dari jalanan kota hingga arena sabung ayam di desa, senjata api muncul sebagai alat kekuasaan baru siapa yang lebih dulu menarik pelatuk, dia yang bertahan.
Dalam setahun terakhir, pola ini mengeras. Dari baku tembak di Lampung Selatan hingga penembakan aparat di lokasi perjudian, satu garis merah terbentang, kriminal jalanan naik kelas menjadi kekerasan terorganisir.
Bahkan aparat bersenjata negara pun tak lagi selalu berada di posisi dominan.
Dibaliknya, beredar senjata api ilegal rakitan maupun gelap yang mengalir dari jaringan bawah tanah ke tangan pelaku kejahatan.
Senjata murah, mudah diperoleh, dan cukup mematikan untuk mengubah pencurian menjadi pembunuhan.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menghentikan Curanmor.
Pertanyaan yang lebih mendasar mulai mengemuka ketika pelaku kejahatan sudah bersenjata dan siap membunuh, apakah aparat yang turun ke lapangan masih cukup terlindungi atau justru sedang dikirim ke medan yang tak lagi seimbang?.
(Hanif)












