Reaksi.co.id—BANDAR LAMPUNG—Tragedi kembali terjadi di destinasi wisata alam. Dua mahasiswi Universitas Lampung (Unila) dilaporkan hanyut terseret air bandang saat berwisata di Wira Garden, Kelurahan Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Timur, Rabu (1/4/2026) siang.
Peristiwa ini menyoroti lemahnya sistem mitigasi risiko di kawasan wisata yang kerap dipadati pengunjung.
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Empat mahasiswi datang untuk berlibur. Cuaca yang semula cerah mendadak berubah ekstrem hujan deras mengguyur kawasan hulu sungai. Namun, tidak ada peringatan dini yang terlihat di lokasi.
Sekitar pukul 12.00 WIB, usai hujan mereda, para korban bersama rekannya nekat berfoto di atas batu di aliran sungai. Tanpa disadari, debit air dari hulu meningkat drastis. Air bah datang tiba-tiba, menyeret dua korban yang tidak sempat menyelamatkan diri.
“Korban bersama teman-temannya berjumlah empat orang datang untuk rekreasi. Setelah hujan deras, mereka berfoto di atas batu di sungai. Tiba-tiba datang air bandang dari aliran atas, dua orang hanyut terbawa arus,” ujar Kapolsek Teluk Betung Timur, Kompol Toni Apriadi, dalam laporan awalnya.
Dua korban yang hanyut diketahui bernama Fatmawati (22), warga Tulang Bawang Barat, dan Bunga Rosana (22), warga Kota Metro.
Keduanya merupakan mahasiswi Fakultas MIPA Unila. Sementara dua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke tepian sungai.
Insiden ini kembali membuka pertanyaan serius: sejauh mana pengelola wisata memastikan keselamatan pengunjung? Tidak adanya tanda bahaya, sirene peringatan, atau petugas siaga saat cuaca ekstrem diduga menjadi faktor yang memperparah situasi.
Sejumlah sumber di lapangan menyebutkan, fenomena air kiriman dari hulu bukan kali pertama terjadi di kawasan tersebut. Namun, mitigasi yang memadai dinilai belum terlihat.
“Kalau hujan di atas, air bisa tiba-tiba besar. Harusnya ada petugas yang mengingatkan atau menutup akses ke sungai,” ujar salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan penanganan korban masih berlangsung. Aparat kepolisian menyatakan laporan lengkap akan segera disampaikan, termasuk kemungkinan penyelidikan terhadap aspek kelalaian pengelola wisata.
Tragedi ini menjadi pengingat keras: wisata alam bukan tanpa risiko. Tanpa sistem peringatan dini dan pengawasan ketat, keindahan alam bisa berubah menjadi ancaman mematikan dalam hitungan menit.












