News

Wira Garden Disorot Usai Larang Wartawan Liput Tragedi Mahasiswi Hanyut

Reaksi.co.id—BANDAR LAMPUNG—Sikap tertutup pengelola Wira Garden memantik sorotan baru di tengah tragedi tewasnya dua mahasiswi Universitas Lampung. Alih-alih membuka akses informasi, petugas keamanan justru diduga menghalangi kerja jurnalistik di lokasi kejadian.

Saat awak media berupaya masuk ke titik lokasi kejadian (TKP), petugas keamanan di pintu masuk menolak memberikan akses. Penolakan itu bukan tanpa alasan namun justru menimbulkan tanda tanya.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Saya tidak bisa mengambil keputusan untuk memperbolehkan masuk, Pak. Manajer tidak memperbolehkan,” ujar petugas tersebut kepada wartawan, Kamis, 2/4/2026.

Pernyataan itu langsung mengarah pada sosok manajer yang disebut bernama Dedy. Namun, ketika diminta klarifikasi lebih lanjut, petugas berdalih bahwa sang manajer tidak berada di lokasi.

Ironisnya, penolakan akses terjadi di saat informasi publik sangat dibutuhkan. Petugas bahkan menyebutkan adanya aktivitas sejumlah instansi pemerintah di area atas lokasi, mulai dari petugas damkar, Satpol PP hingga BPBD, yang disebut sedang melakukan semacam “press release”.

Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik. Ketika awak media mencoba menuju area atas untuk memastikan informasi tersebut, akses tetap ditutup rapat tanpa penjelasan transparan.

Dalih keberadaan aparat pemerintah pun terkesan janggal. Jika benar ada kegiatan resmi, mengapa justru media sebagai penyampai informasi publik dilarang mendekat?

Petugas keamanan kembali menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan manajemen. Ia menyebut, manajer bernama Dedy saat ini berada di Rumah Sakit Bhayangkara, lokasi di mana jenazah korban dibawa.

“Manajer Pak Dedy, Pak. Sekarang juga sepertinya lagi di RS Bhayangkara, mereka di sana semua,” katanya.

Sikap tertutup ini justru memperkuat dugaan adanya upaya membatasi informasi di tengah tragedi yang menelan korban jiwa.

Padahal, dalam situasi krisis, keterbukaan informasi menjadi kunci untuk memastikan akuntabilitas terutama terkait aspek keselamatan pengunjung.

Hingga kini, pihak pengelola Wira Garden belum memberikan keterangan resmi kepada media. Upaya konfirmasi terhadap manajemen juga belum membuahkan hasil.

Penolakan akses ini menambah panjang daftar pertanyaan yang belum terjawab: apakah ada yang sengaja ditutup-tutupi di balik tragedi ini? Ataukah ini cerminan buruknya tata kelola keselamatan dan transparansi di salah satu destinasi wisata alam andalan di Bandar Lampung?

Di tengah duka yang masih menyelimuti, publik kini menunggu bukan hanya klarifikasi, tetapi juga pertanggungjawaban.

Di tengah polemik ketertutupan informasi dan sorotan terhadap pengelola Wira Garden, kabar duka akhirnya terkonfirmasi.

Dua mahasiswi Universitas Lampung yang sebelumnya dilaporkan hanyut, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis pagi (2/4/2026) di perairan sekitar Pulau Pasaran, Teluk Betung Timur.

Kedua korban, Fatmawati dan Bunga Rosana, ditemukan mengambang dalam kondisi terpisah, berjarak sekitar 300 hingga 500 meter dari dermaga Pulau Pasaran. Jasad mereka terseret arus deras sejak banjir bandang yang terjadi sehari sebelumnya.

Penemuan ini sekaligus mengakhiri harapan pencarian, namun menyisakan luka mendalam serta pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: apakah tragedi ini murni bencana alam, atau ada kelalaian yang dibiarkan terjadi? (red)

Exit mobile version