REAKSI.CO.ID — Catatan Herman Batin Mangku Jurnalis, LAMA juga saya menaruh harapan kepada Prabowo Subianto. Sejak mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014, saya melihat ada sesuatu yang patut ditunggu dari kepemimpinannya kelak. Ketika seorang relawan membawa sekarung kaus bergambar Prabowo, saya ikut memakainya dan membagi-bagikannya. Ketika kembali mencalonkan diri, saya bahkan membeli kaus yang dijual simpatisannya.
Bagi saya, itu bukan sekadar urusan kaus, melainkan cara sederhana menunjukkan keyakinan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani berdiri di atas kaki sendiri.
Pada pencalonan berikutnya, harapan itu tidak ikut luntur bersama warna kaus yang memudar. Saya tetap konsisten. Saya membayangkan Indonesia dipimpin seseorang yang tidak gampang menunduk di hadapan kekuatan asing, tidak mudah menyerahkan kekayaan alam kepada kepentingan segelintir orang, dan tidak membiarkan rakyatnya menjadi penonton di negeri sendiri. Senin ( 26/10/26).
Ketika Prabowo akhirnya menjadi presiden, ujian dimulai dari hiruk-pikuk nitizen yang menggangganya bak seorang stand-up comedy hingga tak lebih dari “badut” politik termasuk “kacungnya” Geng Solo. Saya tidak buru-buru ikut terpingkal dengan “omongan-omongan besarnya”. Saya memilih menunggu. Menilai presiden sebelum pekerjaannya teruji sama saja dengan menilai rasa rendang hanya dari foto di buku menu.
Namun, setelah hampir dua tahun, panggung politik masih terlalu sering riuh oleh panggung joget gemoynya, pidato, seremoni, kunjungan, dan janji-janji besar. Sementara itu, rakyat tetap menunggu jawaban atas pertanyaan sederhana: kapan kekayaan negeri ini benar-benar terasa di meja makan, di biaya sekolah, di pelayanan kesehatan, dan di rekening keluarga? Kapan janji kedaulatan itu terwujud?
Dalam kesabaran, saya mulai ikut bertanya-tanya, apakah harapan yang saya rawat sejak 2014 hanya akan menjadi kaus yang disimpan di lemari kenangan? Apakah janji melawan kepentingan asing dan menegakkan kedaulatan bangsa akan berhenti sebagai slogan yang gagah ketika diteriakkan, tetapi kehilangan tenaga ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi, oligarki, kapitalis, antek asing, hingga akal bulus Bank Dunia dan belisnya Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI)?
MSCI, Siapa Takut
Saya mulai melihat secercah harapan tersebut lewat pernyataan tegas Prabowo atas permainan MSCI buat menekan pasar saham domestik. Dia menyatakan pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, dua tahun pemerintahannya, Rabu, 21 Oktober 2026, tak takut dan tak gentar terhadapnya gertakan MSCI yang ingin menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Indonesia: Siapa takut.
Singapura, Oke Gas Oke Gas
Prabowo seakan terus membangunkan bangsa ini agar sadar bahwa kekayaan negeri ini selama puluhan tahun lari dan dinikmati bangsa lain. Ketika Singapura “ngeromet” terdampak asap saat bangsa ini sedang kerepotan menghadapi musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tim Prabowo langsung eksekusi mengurangi pasokan gas ke negara yang kaya raya dari hasil bumi Indonesia. Alih-alih membantu, negara jiran malah ngejek. Singapura “ngegas”, Indonesia pun: oke gas oke gas …
Brics, Seribu Kawan Terlalu Sedikit, Satu Musuh Terlalu Banyak
Salah satu langkah penting Prabowo adalah bergabungnya Indonesia sebagai anggota penuh BRICS pada Januari 2025. Pemerintah menyebut keanggotaan ini sebagai peluang memperluas kerja sama dengan negara-negara berkembang, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mendorong tatanan dunia yang lebih inklusif setelah jadi anggota penuh pada KTT BRICS di Rio de Janeiro pada Juli 2025.
Bagi saya, langkah kedaulatan ini menarik. Indonesia tidak seharusnya menggantungkan seluruh harapan ekonomi dan diplomatiknya pada satu kelompok negara saja. Kita perlu memperluas pasar, membuka kerja sama teknologi, mencari sumber investasi alternatif, dan memperkuat posisi tawar. Dalam pergaulan internasional, semakin banyak pintu yang bisa kita ketuk, semakin kecil kemungkinan kita dipaksa berlutut di satu tuan.
Pada Maret 2026, Prabowo menyatakan Indonesia tidak akan ragu meninggalkan kerangka perdagangan yang merugikan kepentingan nasional. Dia mengatakan tidak anti-Amerika, sebagaimana juga tidak anti-China, Rusia, Eropa, atau negara mana pun. Yang merisaukannya, ketika kepentingan asing ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan rakyat Indonesia.
Kita tidak perlu memusuhi bangsa lain untuk menjadi bangsa yang berdaulat. Kita hanya perlu memastikan bahwa kerja sama berlangsung secara adil dan tidak mengubah kemerdekaan menjadi barang diskon. Perjanjian perdagangan resiprokal Indonesia-Amerika Serikat yang ditandatangani Prabowo pada 19 Februari 2026 menjadi ujian penting. Penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen penting bagi industri, pekerja, dan eksportir Indonesia. Seperti definisi nonbloknya Prabowo: Seribu Kawan Terlalu Sedikit, Satu Musuh Terlalu Banyak.
Hilirisasi
Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai negeri kaya bahan mentah yang sering menjual kekayaan alamnya dengan nilai tambah terbatas ditambah banyaknya begal lalu para maciany menjual kembali produk olahan dengan harga lebih tinggi. Pemerintahan Prabowo lalu mengibarkan hilirisasi Nikel, bauksit, tembaga, timah, batu bara, minyak, dan gas menjadi fondasi industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Masih banyak kebijakan-kebijakan Prabowo lainnya, namun buat dibahas narasinya bakal terlalu panjang, antara lain MBG yang mendinginkan ekonomi akar rumput, Koperasi Merah, Danatara, dan lainnya.
Buktiin Geh
Namun, saya juga tidak ingin menukar keyakinan dengan pemujaan. Presiden bukan nabi, partai bukan agama, dan kebijakan pemerintah bukan kitab yang haram dikritik. Justru karena saya menaruh harapan, saya merasa berkewajiban mengingatkan ketika ada yang perlu dibenahi.
Prabowo harus membuktikan bahwa ia mampu menjaga keseimbangan: bersahabat dengan semua negara tanpa tunduk kepada siapa pun; menarik investasi tanpa menjual keleluasaan kebijakan; mengolah sumber daya tanpa mengorbankan lingkungan; dan membangun kekuatan negara tanpa membiarkan rakyat menjadi penonton.
Kalau berhasil, sejarah tidak akan mengingatnya hanya sebagai mantan jenderal yang akhirnya menjadi presiden. Ia akan dikenang sebagai pemimpin yang memperkuat kemampuan Indonesia menentukan nasibnya sendiri.
Kalau gagal, pidato-pidato besarnya hanya akan menjadi bahan arsip, sementara kaus yang pernah saya bagikan dan beli akan menjadi saksi bahwa harapan pernah begitu tinggi. Kaus itu mungkin sudah kusam, tetapi pertanyaan tentang kedaulatan tidak pernah kehilangan warna.
Saya masih ingin percaya bahwa Indonesia bisa berdiri tegak. Saya ingin melihat kekayaan negeri ini benar-benar menyejahterakan rakyatnya. Saya ingin melihat presiden yang berani menolak tekanan dari luar sekaligus tegas membenahi penyimpangan di dalam negeri.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan ketika presiden berani membentak negara lain di depan kamera. Kemerdekaan adalah ketika Indonesia mampu mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri, rakyatnya tidak miskin di tengah kekayaan alam, dan hukum tidak bertekuk lutut kepada kekuasaan maupun uang.
Dan jika suatu hari Prabowo benar-benar berhasil membawa Indonesia ke sana, saya tidak akan menyesal pernah memakai kausnya sejak 2014. Tetapi kalau belum, jangan salahkan rakyat yang mulai bertanya. Sebab kesetiaan bukan berarti harus menutup mata. Bahkan orang yang paling berharap pun berhak memeriksa hasil pekerjaannya.
Kepada Presiden Prabowo, harapan itu masih ada. Sekarang, buktikan bahwa Merah Putih bukan hanya lambang yang berkibar di belakang podium, bukan cuma nama kabinet, bukan hanya “omong besar”, melainkan keberanian untuk memastikan kekayaan, hukum, dan masa depan bangsa ini benar-benar berada di tangan rakyat Indonesia. Pasal 33 UUD 45.(*).













