News

Terkuak! Kematian Bayi Alesha di RSUDAM Bukan Karena Alat, Tapi Layanan Pascaoperasi

×

Terkuak! Kematian Bayi Alesha di RSUDAM Bukan Karena Alat, Tapi Layanan Pascaoperasi

Sebarkan artikel ini

Reaksi.co.id—BANDAR LAMPUNG—Kasus kematian bayi Alesha di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung kembali mengundang perhatian luas. Selama ini publik menduga tragedi itu berkaitan dengan masalah alat operasi.

Namun, dokter operator yang menangani, dr. Billy Rosan, menegaskan penyebabnya bukan karena alat, melainkan lemahnya pengawasan dan pelayanan pascaoperasi.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Tindakan yang saya tawarkan ada tiga, yaitu single stage (sekali operasi), multiple stage (operasi bertahap), dan single stage dengan menggunakan alat. Keluarga akhirnya memilih single stage dengan alat,” kata dr. Billy, Kamis (28/8).

Billy menjelaskan, keluarga pasien sempat meminta bantuan pembelian alat. Setelah tersedia, operasi berjalan sesuai prosedur.

Namun, permasalahan muncul bukan di ruang operasi, melainkan setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan.

“Pascaoperasi seharusnya menjadi kendali bagian anestesi. Saya mendapat informasi bahwa kondisi bayi membiru. Ibunya sudah melapor ke saya, tetapi sejak awal seharusnya ada proses pengawasan. Sayangnya, laporan ke saya terlambat,” jelasnya.

Menurut Billy, jumlah tenaga kesehatan saat itu sangat terbatas. Hanya ada dua perawat yang berjaga, sementara pasien cukup banyak. Situasi ini membuat pengawasan tidak maksimal.

“Kalau dari awal ada tanda-tanda membiru, mestinya langsung ditangani cepat. Saya menyarankan bayi dibawa ke ICU, tetapi saat itu ICU penuh dan sudah dibooking pasien lain,” ungkapnya.

Persoalan lain juga muncul saat pengurusan rujukan. Meski menggunakan BPJS Kelas II, keluarga pasien tetap diminta membayar biaya ambulans.

“Saya coba menghubungi RS Urip untuk rujukan, tetapi prosedur SISRUTE (sistem rujukan terintegrasi) harus dipenuhi terlebih dahulu. Inilah yang membuat penanganan menjadi terhambat,” kata Billy.

Billy menegaskan, dirinya tidak pernah memaksakan pilihan medis. Semua opsi sudah dijelaskan dan diputuskan bersama keluarga.

“Artinya, saya yang diberitakan terkait pasien itu, sebenarnya pasien dan keluarganya sendiri yang meminta. Saya hanya memberikan opsi, bukan memaksa,” tegasnya.

Ibu pasien pun menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan di ruang pascaoperasi.

“Pelayanan di ruangan itu tidak ada peralatan yang standby. Perawat yang berjaga hanya dua orang. Jadi SDM-nya kurang dan tidak ditambah,” ujar Billy mengutip pernyataan ibu pasien.

Keluarga merasa terpukul karena harus menghadapi kondisi bayi yang kritis tanpa adanya perawat yang siaga.

“Yang disesalkan keluarga pasien adalah ketika mereka menemui, perawat tidak ada. Semua dilakukan sendiri tanpa ada perawat yang standby. Nah, di situlah mulai timbul rasa kecewa,” ucap Billy.

Tinggalkan Balasan