LAMPUNG BARAT —– Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengunjungi UPTD Balai Benih Kebun Induk (BBKI) Hanakau, Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, di Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (9/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur berdialog langsung dengan kelompok tani sekaligus menyerap berbagai aspirasi terkait kebutuhan pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.
BBKI Hanakau merupakan pusat inovasi dan pengembangan komoditas kopi seluas 10 hektare. Kawasan ini terdiri atas kebun entres, kebun koleksi, dan kebun produksi yang dipersiapkan sebagai pusat pengembangan benih kopi unggul di Provinsi Lampung.
Selain menjadi sumber benih, khususnya entres kopi, BBKI Hanakau juga diarahkan sebagai percontohan budidaya kopi untuk meningkatkan produktivitas, pusat koleksi varietas kopi unggul, penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus etalase dan tempat pembelajaran bagi petani kopi.
Dalam dialog bersama petani, berbagai aspirasi disampaikan, mulai dari kebutuhan sarana produksi, dukungan pascapanen, hingga akses pemasaran hasil pertanian.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk terus memperkuat sektor pertanian, baik pada tahapan budidaya maupun pascapanen.
“Kami ingin memastikan petani mendapatkan dukungan yang utuh, mulai dari peningkatan produktivitas di lahan hingga penanganan hasil panen. Pemerintah hadir agar nilai tambah yang diterima petani semakin besar dan kesejahteraan terus meningkat,” ujar Mirza.
Ia menjelaskan, salah satu program yang tengah dijalankan Pemprov Lampung adalah pemberian Pupuk Hayati Cair (PHC) secara gratis kepada petani.
Menurut Mirza, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas berbagai komoditas pertanian, mulai dari tanaman hortikultura seperti sayuran hingga tanaman perkebunan seperti kopi, dengan potensi peningkatan hasil produksi mencapai 13 hingga 30 persen.
“Program PHC ini kami berikan gratis kepada petani. Harapannya, produktivitas pertanian meningkat, dan hasil panen petani menjadi lebih baik. Kami ingin manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh petani di Lampung,” katanya.
Ia menambahkan, UPTD BBKI Hanakau telah menggunakan PHC dan ke depan akan dipersiapkan sebagai salah satu lokasi produksi pupuk hayati cair tersebut. Dengan demikian, distribusi PHC diharapkan dapat menjangkau lebih banyak petani di seluruh wilayah Lampung.
Selain dukungan pada aspek budidaya, Pemerintah Provinsi Lampung juga mengupayakan bantuan sarana pascapanen. Bantuan mesin dryer ditargetkan dapat direalisasikan pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027. Sementara itu, bantuan mesin pulper dan mesin penggiling kopi diusulkan untuk direalisasikan pada tahun depan.
Di sektor hortikultura, Pemprov Lampung turut mendukung pembangunan tempat penyortiran hasil panen sayuran yang akan terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih.
Mirza mengatakan, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani lokal, termasuk memasok kebutuhan jaringan koperasi di seluruh Provinsi Lampung.
“Selama ini masih banyak hasil sayuran petani yang belum bisa menembus pasar modern. Melalui fasilitas penyortiran dan Koperasi Desa Merah Putih, kami ingin hasil panen petani memiliki akses pasar yang lebih luas. Ke depan, produk sayuran dari petani Lampung dapat dipasarkan melalui jaringan koperasi di seluruh provinsi,” ujarnya.
Menurut Mirza, Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya menjadi tempat masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga menjadi saluran pemasaran yang memberikan ruang lebih besar bagi hasil produksi petani lokal.(*).













