Miris, Anak Kakek Misran Sakit Parah Namun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah,Meski Sering Didata

IMG 20240518 WA0037 Miris, Anak Kakek Misran Sakit Parah Namun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah,Meski Sering Didata

Pesawaran (Reaksi.co.id) – Pemerintah sepertinya harus merubah data penerima bantuan program untuk masyarakat kurang mampu. Pasalnya sampai saat ini, masih ditemukan warga yang benar-benar kurang mampu namun tidak mendapatkan bantuan apa pun.

Seperti keluarga kakek Misran (83), warga Dusun 5, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.

Meskipun kehidupannya sangat kekurangan, namun ia tidak mendapatkan bantuan apa pun, baik dari pemerintah desa maupun Pemerintahan Kabupaten Pesawaran.

Informasi yang dihimpun ‘Tim media’, keseharian kakek Misran adalah buruh tani. Penghasilannya yang tak menentu,hanya cukup untuk makan bersama anaknya. Itu pun hanya pas-pasan. Bahkan tak sering, dirinya dibantu oleh anaknya yang sudah berkeluarga.

“Ya mas, lihat sendiri kan kondisi keadaan saya. Kalau soal makan, kami selalu dibantu oleh kakaknya anak saya. Beda sewaktu anak bungsu saya (Rina Wati) masih sehat dan punya penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga ini. Tapi mas, lihat sendiri kondisi anak saya sekarang. Ia berbaring di tempat tidur sudah selama 10 tahun mas. Dulu sudah pernah berobat ke Rumah Sakit Pesawaran maupun di Bandar Lampung. Dengan hidup pas-pasan, saya tak mampu lagi membawa Rina Wati berobat ke rumah sakit lagi,”tutur Misran dengan mimik muka sedih kepada tim media, 18 Mei 2024.

Kakek Misran menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya. “Sebelumnya anak saya (Rina) seorang anak yang ceria, bahkan ia bisa membantu keluarga dengan membuka salon di rumah. Sejak kepergian istri saya (almarhum) itulah Rina menjadi anak pemurung dan tak pernah bergaul lagi dengan teman-temannya, sejak itulah Rina sering sakit-sakitan dan penyakitnya bertambah parah sampai kurus sekali,”papar Misran.

Misran juga tak menampik, kalau Rina dulu dibantu oleh Pak Kades Merdi dengan diberi uang Rp. 600 ribu, tapi kalau soal bantuan dari program yang digaungkan pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu seperti bantuan bedah rumah, BPNT, PKH, KIS maupun bantuan untuk lansia. Ya, Misran tak satu pun mendapatkan program-program itu.

“Kalau mendengar (bantuan) sih sering, tapi kalau mendapatkannya saya belum pernah. Tapi kalau bantuan untuk bedah rumah rumah saya sudah sering di data, namun hanya di data saja,”ujar Misran.

Misran mengaku sebagai buruh tani akan dapat penghasilan apa bila ada tetangga yang mempekerjakannya. Karena selama ini ia mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun untuk kebutuhan, tentunya mau tidak mau harus ada setiap hari, belum ditambah dengan merawat Rina yang lagi sakit

Soal bantuan, pria yang sudah mulai keriput ini mengaku berharap seperti warga lain, yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, karena selama ini meskipun kondisi kehidupannya sangat memprihatinkan namun belum juga mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Kalau boleh saya meminta, saya juga ingin mendapatkan bantuan seperti yang lain. Karena memang kehidupan kami sangat terbatas,”imbuhnya.

Selain itu juga, Misran berharap agar Pemerintah Ka­bupaten Pesawaran bisa mengulurkan ban­tuan untuk biaya pengobatan Rina hingga sembuh.

”Saya ingin Rina dapat disembuhkan agar bisa beraktivitas kembali. Makanya
buat Bupati Pesawaran agar mau mendengar derita keluarga saya ini un­tuk bisa membantunya,” harap Ayah dari 5 orang anak ini.

Sementara itu, tetangga kakek Misran yang namanya tidak mau disebutkan, mengaku prihatin dengan kehidupan keluarga Sumiran.

Ia mengaku miris, di tengah-tengah banyaknya program pemerintah untuk masyarakat miskin, namun keluarga ini tak kunjung juga mendapatkan bantuan. Baik itu BPNT, PKH, BLT-DD, KIS, bedah rumah maupun bantuan untuk Lansia.

“Sepanjang ada program dari pemerintah, Pak Misran ini tidak pernah mendapat bantuan. Padahal jika dilihat dari kondisi ekoniminya, mereka merupakan keluarga tidak mampu dan pantas mendapatkan program-program itu,” paparnya.

Dirinya juga sempat mengaku bahwa Pak Misran baru bulan Januari kemarin dirinya mendapatkan bantuan beras pangan 10 kg dari desa. Padahal Pak Sumiran itu asli orang Bagelen sejak kecil sampai sekarang dia tinggal di Bagelen.

Tetangga Misran yang juga asli warga Desa Bagelen ini mengakui dulu sempat mengkonfirmasi kepada pendamping PKH terkait keluarga Sumiran ini.

Namun mereka berdalih, data warga yang mendapatkan bantuan itu dari pemerintah pusat dengan mengacu pada data beberapa tahun silam.

“Saya merasa program pemerintah ini kurang tepat sasaran. Banyak warga yang mendapatkan bantuan program program dari Pemerintah merupakan warga mampu. Sementara orang miskin tidak mendapatkan bantuan, ya contohnya ini keluarga Pak Misran,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Misran
bersama anak bungsunya Rina Wati yang saat ini kondisinya sakit parah dan belum dibawa kerumah sakit tinggal di rumah papan berukuran 5 x 8 meter. Sedangkan istri Sumiran telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. (Ikbal)